#Alhamdulillah "Serombongan" Terselenggara Gelombang Awal di Tahun 2016

diposkan pada : 17-01-2016 22:35:15 Manufaktur Ditopang Sektor Barang Konsumsi

~Salah Satu Produk Kami~

 

sumber: Indonesia Finance Today

Indeks manufaktur yang sebagian besar komponen pembentuknya terdiri atas indeks consumer, industri dasar, dan aneka industri, naik 9% sejak awal tahun hingga Juli 2013.
INDUSTRI manufaktur diproyeksikan tumbuh mencapai 7,1% pada 2013 meskipun kondisi perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa masih diwarnai ketidakpastian. Berbagai faktor negatif seperti kenaikan harga gas, tarif dasar listrik, upah minimum pekerja, infrastruktur yang belum dapat diandalkan, serta melemahnya nilai tukar, tetap tidak mengganggu pertumbuhan sektor ini. "Kinerja sektor industri manufaktur pada 2013 tumbuh akibat meningkatnya investasi di
sektor otomotif, industri pupuk, industri kimia dan semen," kata MS Hidayat, Menteri Perindustrian.
Terjaganya pertumbuhan sektor ini akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan perusahaan yang bergerak di manufaktur. Maka, sangat beralasan apabila investor mengapresiasi positif saham-saham manufaktur.
Indeks manufaktur yang sebagian besar komponen pembentuknya terdiri dari perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi, industri dasar, dan aneka industri mengalami kenaikan 9,37% sejak awal tahun hingga 2 Agustus 2013. Perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi sebanyak 31 emiten memiliki bobot 44% dari pembentukan indeks manufaktur, sementara aneka industri (40 emiten) dan industri dasar (44 emiten) masing-masing 27%.
Daya tahan sektor manufaktur terutama ditopang sektor konsumer yang tumbuh 28%. Kenaikan ini merupakan kenaikan tertinggi kedua dari sepuluh sektor yang ada. Kinerja sektor konsumer juga lebih tinggi dari dua sektor lainnya yakni sektor aneka industri dan industri dasar yang juga menjadi bagian indeks manufaktur.
Sementara itu, perusahaan dari aneka industri justru berperan sebagai penekan kinerja indeks karena mencatat penurunan 11% sejak awal tahun. Di sisi lain, industri dasar relatif tidak terlalu berdampak kepada pertumbuhan indeks manufaktur karena hanya mencatat kenaikan 1%, selain itu, kontribusi industri dasar terhadap indeks manufaktur tergolong kecil yakni hanya sebesar 20%.
Menurut Harry Su, Kepala Riset PT Bahana Securities, kenaikan indeks manufaktur di tengah hantaman sejumlah sentimen negatif kenaikan biaya produksi karena penggerak indeks manufaktur sebagian besar berasal dari emiten konsumer yang bersifat diversif, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Unilever Tbk (UNVR). "Ketersediaan bahan baku sejumlah emiten manufaktur cukup terjaga sehingga pelemahan nilai tukar rupiah tidak memberi dampak signifikan," ungkapnya, di Jakarta.
Harry juga memperkirakan, kinerja indeks manufaktur pada semester II 2013 tidak akan berbeda jauh dengan pertumbuhan semester I, yaitu masih mengalami pertumbuhan postif.
"Kenaikan BBM, pelemahan rupiah, agaknya tidak akan meberi dampak besar terhadap penurunan daya beli dan kinerja emiten di indeks manufaktur. Karena emiten tersebut sifatnya konsumtif dan disukai orang, sehingga cukup divensif," tegasnya.
Emiten Penggerak
Jika ditelaah, dari 10 emiten terbesar indeks manufaktur yang menjadi penggerak indek (index mover), terlihat bahwa Unilever merupakan pendorong utama kenaikan indeks manufaktur. Kontribusi Unilever terhadap kenaikan indeks manufaktur mencapai 9% dari kenaikan indeks yang sebesar 9%. Lima emiten lainnya hanya berkontribusi di kisaran 1% terhadap indeks.
Sementara itu, empat emiten mencatat kontribusi negatif alias menjadi penekan kinerja indeks dengan kontribusi antara -0,16% hingga -2,8%. Sepuluh emiten yang menjadi index mover tersebut memiliki bobot 80% atas Indeks Manufaktur.
Besamya kontribusi Unilever terhadap pergerakan indeks karena saham ini mencatat kenaikan 50% sejak awal tahun, selain itu bobot Unilever tercatat mencapai 17%. Sementara Astra menjadi penekan kinerja manufaktur dengan kontribusi -2,8% karena saham Astra teratat menurun 13% sejak awal tahun sampai akhir Juli, padahal bobot Astra mencapai 21% atas indeks.
Jika ditelaah lebih lanjut, sebanyak lima dari enam emiten terbesar yang mencatat kenaikan merupakan emiten indeks konsumer sehingga dapat disebutkan bahwa sektor konsumer merupakan kontributor terbesar secara sektoral. Saham-saham dari emiten ini akan menjadi pilihan karena masih menawarkan potensi kenaikan. Mereka adalah produsen kebutuhan mendasar konsumen seperti makanan, minuman, obat, daging, dan produk toiletries.
Sektor manufaktur diperkirakan masih akan tumbuh solid seiring kenaikan jumlah penduduk dan daya beli masyarakat akibat solidnya pertumbuhan ekonomi di kisaran 6%. Angka ini masih tergolong tertinggi di antara negara-negara G20.
Pertumbuhan sektor ini juga diuntungkan dengan hasil survei yang dilakukan baru-baru ini yang menyebutkan indeks kepercayaan konsumen (IKK) Indonesia tergolong yang tertinggi di dunia.

# Kursus/ Training/ Workshop/ Balai/ Konsultan/ Pelatihan/ Seminar mesin CNC Milling / Mesin Bubut & CAD/CAM di Bandung, Jakarta, Tangerang, Surabaya, Bekasi, Bogor, Depok di http://www.pusatkursusbandung.com

Artikel lainnya »